Beranda » Mahasiswa » udin ingin seperti mereka
Selasa, 19 April 2011 - 10:53:47 WIB
udin ingin seperti mereka
Diposting oleh : adminwebamik
Kategori:
- Dibaca: 285 kali
Hidup memang sulit untuk dimengerti maksudnya atas banyak kisah dalam hidup. Bagaimana bisa semua hal yang rumit seperti itu, akan dapat dipahami oleh seorang bocah? Ketika dia melihat kehidupan dirinya jauh berbeda dengan kehidupan yang dimiliki teman-teman sebayanya. Seperti itulah yang dirasakan Udin, bocah kelas 4 SD yang memiliki sahabat yang kehidupannya jauh berbeda dengan dirinya.
Seperti sahabatnya, Natasha, yang setiap hari selalu diantar jemput oleh seorang supir yang mengendarai sebuah mobil mewah, dengan pintu yang digeser untuk membuka dan menutup. Lalu ada juga Yoga, yang ketika Udin pergi kerumahnya untuk belajar kelompok. Udin sangat terkejut melihat rumah yang begitu besar dan mewah, yang untuk masuk kedalam kompleks perumahan itu saja, selalu harus ijin terlebih dahulu kepada satpam yang berjaga di sebuahpos depan kompleks.
Belum lagi saat Udin berada dirumah Yoga, Udin disuguhkan oleh pemandangan isi rumah yang serba mewah. Yang membuat mulut Udin terus terbuka karena takjub. Yoga pun memiliki permainan yang serba canggih dan lengkap, baik itu Komputer, Game Boy, Playstation Portable atau pun Play Station 3 yang dimainkan dengan Televisi besar yang ukurannya sebesar lemari pakaian Udin. Tidak hanya itu, makanan yang setiap saat dihidangkan, adalah makanan yang terbilang sangat langka bagi Udin. Yang pastinya juga semua serba enak dan menggiurkan.
Teman-teman Udin yang lain tak jauh berbeda, yang jelas sangat jauh berbeda dengan kehidupan Udin. Yang Bapaknya hanya seorang Kuli Bangunan dan Emaknya seorang Buruh cuci. Meskipun Udin bisa mengerti keadaan orang tuanya dan perbedaan dirinya. Namun bagaimanapun juga, sebagaimana layaknya seorang bocah. Udin begitu iri kepada teman-temannya. Begitu ingin memiliki semua kemewahan itu. Yang membuat dirinya kini selalu terlihat murung dan sedih.
Siang hari selepas sekolah, Udin duduk disebuah lapang sepak bola dekat rumahnya. Memandang teman-temannya yang sedang bermain. Wajahnya terlihat sedih, dia masih ingat permainan sepak bola yang dia mainkan saat dirumah Yoga dengan menggunakan Play Station 3. Saat bersama Yoga,meskipun Udin terbilang seorang pemain Bola yang handal lagi gesit. Udin yang tak tahu bagaimana cara memenangkan permainan itu, bagaimana cara menggunakan Joystick ditangannya. Membuat dirinya selalu kalah oleh Yoga. Demikian pula dengan permainan-permainan yang lain. Ah, beta[ ingin rasanya Udin memiliki Play Station itu. Sepertinya sangat mengasikan jika memilikinya dirumah.
…
“Baru pulang, Din?” sapa Emak kepada Udin, saat melihat anaknya baru saja masuk kedalam rumah dan meletakan tasnya. Namun Udin hanya diam saja tak menjawab sapaan Emak. Dia malah duduk dan sibuk membuka sepatu serta seragam sekolah.
“Din..” sapa Emak lagi. Kali ini Udin menoleh kearah Emak yang tengah berada dikamar mandi. Tangannya penuh dengan busa sabun, dan sebagian baju yang Emak kenakan juga terlhat basah. Ternyata sampai siang begini, cucian Emak masih belum selesai juga.
“Eh, iya Mak. Maap. Tadi Udin duduk-duduk dulu sebentar dilapangan Bola,” jawab Udin, masih menampakan wajah sedihnya.
“Ooh, kirain kemana. Tumben tidak bilang-bilang sama Emak.”
Udin hanya tersenyum mendengar ucapan Emak.
“Kamu kenapa? Kok mukanya sedih begitu?” tanya Emak lagi.
“Gak apa-apa kok, Mak. Biasa aja”
“Bener nih, kamu gak apa-apa?”
Udin mengangguk. Lalu menghampiri Emaknya untuk mencium tangan. Emak segera membasuh tangannya dari busa sabun. Lalu menyodorkan tangannya kepada Udin.
“Emak Masak apa hari ini?” tanya Udin sambil mengelap hidung dan keningnya yang basah setelah mencium tangan Emak.
“Biasa aja. Ada kangkung, tempe dan ikan asin di meja sana, kalau kamu memang mau makan,” jawab Emak. Udinpun menghampiri meja makan dan membuka tudung makan itu. Tapi dalam hatinya mendesah sendiri,”Ah, kangkung lagi, tempe lagi, ikan asin lagi” Sungguh jauh berbeda dengan hidangan yang didapati Udin saat berada dirumah Natasha ataupun Yoga. Sudah pasti tidak ada sayur kangkung, tempe apalagi ikan asin. Dengan sedikit enggan, Udin pun tetap memakan semua yang tersaji dimeja makan.
…………
“Din, nanti giliran kita belajar kelompok dirumah kamu yah?” ucap Natasha kepada Udin. Setelah lonceng tanda istirahat berbunyi. Sejenak Udin berubah menjadi panik mendengarnya. Terbayang olehnya keadaan rumahnya yang sempit lagi berantakan. Yang jelas jauh berbeda dengan rumah Natasha dan juga Yoga.
“Iya, Din.. jangan lupa nanti sore kita berkumpul dirumah kamu,” Yoga menambahkan saat menghampiri mereka berdua. Sementara Udin semakin terlihat panik dan tidak tahu harus berkata apa.
“Nggg.. jangan dirumah aku, dong. Dirumah kalian aja, biar nanti setelah belajar. Kita bisa langsung main Play Station, sambil adu tanding. Seperti kemarin-kemarin.” Elak Udin dalam gugup.
“Ah, udin mah begitu, sih! Dari kemaren selalu aja nolak kalau kita mau main kerumahnya” ucap Natasha sedikit cemberut. Hal itu membuat Udin semakin merasa bersalah.
“Benar apa yang dibilang Natasha. Pokoknya, besok kita belajar kelompok dirumah kamu, Din. Titik!” ucap Yoga juga tegas, tanpa mau menerima alasan apapun lafi dari Udin.
Akhirnya dengan berat hati Udin mengiyakan permintaan teman-temannya. Dan kemudian memberikan alamat rumahnya kepada mereka. Meskipun dalam hatinya sedikit gundah. Bagaimana nanti teman-temannya saat mengetahui keadaan rumahnya? Apa yang harus dihidangkan Emak untuk menyambut kedatangan mereka? Apakah teman-temannya tidak akan merasa jijik dengan makanan yang dihidangkan? Apakah mereka akan betah berada dirumahnya? Apakah mereka mau bermain bersama-sama dengannya ditanah lapang?. Pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengganggu diri Udin. Mengingat kebiasaan teman-temannya yang jauh berbeda dengan kebiasaan dirinya.
Sesampainya dirumah, Udin menceritakan tentang rencana kedatangan teman-temannya kerumah kepada Emak.
“Waah, teman-teman kamu yang orang kaya itu, mau datang kesini, Din?” tanya Emak seakan tak percaya sekaligus merasa senang.
“Iya, Mak. Mereka mau belajar kelompok disini,”jawab Udin tak bersemangat.
“Lho, kamu kok sepertinya kamu tidak suka kalau temannya main kesini?” tanya Emak lagi, saat melihat ekspresi wajah Udin yang terlihat murung tak bersemangat.
“Udin malu, Mak. Rumah kita khan jelek, tidak seperti rumah mereka yang besar dan mewah,” jawab Udin masih dengan wajah yang sama. Emak sepertinya mulai mengerti apa yang tengah dirasakan anaknya. Dihampirinya Udin, lalu direngkuhnya kepala anaknya itu. Sambil membelai lembut rambut kepala Udin, Emak berkata lembut.
“Kalau memang mereka itu teman-teman Udin yang baik. Apapun Udin dan bagaimanapun keadaan kita. Mereka tidak akan mempermasalahkan hal itu, Din.”
Udin masih diam. Bagaimanapun juga dia merasa malu dengan keadaan keluarganya, dan juga rumah mereka yang kecil.
“Sebagai bukti teman-teman Udin itu orang baik. Mereka selama ini tidak mempermasalahkan bagaimana diri Udin. Mereka selalu senang menjadi teman Udin dan bermain dengan Udin. Betul tidak apa yang Emak bilang?” Ucap Emak lagi sambil mengangkat dagu anaknya agar beradu tatap.
“Iya, Mak. Mereka teman-teman yang baik.” jawab Udin.
“Nah, kalau begitu, kamu juga harus menjadi teman mereka yang baik. Harus jadi tuan rumah yang baik juga, saat mereka datang kesini. Tidak usah malu dengan keadaan kita, Din. Mereka mungkin malah akan membenci Udin, jika seandainya Udin tidak bersyukur dengan keadaan kita ini” Emak tersenyum kepada Udin.
Kali ini, Udin bisa menerima penjelasan Emak. Karena memang selama ini, Natasha ataupun Yoga tidak pernah mempermasalahkan dirinya yang memang jauh berbeda dengan mereka, berbeda dengan teman-teman yang lain. Mereka memang teman-teman yang baik!
Akhirnya dengan bersemangat Udin membantu Emak merapihkan Rumah dan mempersiapkan hidangan yang akan disuguhkan nanti. Dibantu juga oleh Siti, adik perempuan Udin.
….
Pada waktu siang menjelang sore, Natasha dan Yoga akhirnya tiba dirumah Udin, meski terlambat. Karena mereka sempat kebingungan mencari lokasi rumah Udin yang memang terpencil. Dan akhrinya acara belajar kelompok berlangsung diteras rumah Udin. Mereka berkumpul diatas bale buatan Bapak Udin. Dan seperti yang dikatakan Emak, ternyata Natasha maupun Yoga tidaklah bersikap sebagaimana dalam pikiran Udin selama ini. Mereka terlihat biasa saja. Malah begitu menikmati suasana yang teduh lagi tenang.
Bahkan saat Siti menghampiri mereka dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Natasha sempat merasa kagum kepada Siti. Sebab dirumahnya, Natasha selalu di layani oleh pembantu. Tak pernah sekalipun dia melakukan sebagaimana Siti lakukan. Tak pernah pula ia membantu Mamanya didapur. Karena Mamanya memang tidak bisa memasak. Natasha iri dengan kekompakan Siti dan Emak dalam menyiapkan semua hidangan itu.
Dan Yoga, ternyata, meskipun dia begitu mahir dan selalu menang dalam permainan Bola dengan Play Station. Namun Yoga sama sekali tidak bisa bermain dengan mahir sebagaimana Udin. Saat Udin mengajaknya ikut bergabung bermain sepak bola bersama teman-teman dari kampungnya. Yoga selalu jatuh saat menggiring Bola, atau kebingungan saat bola itu berada dalam kuasa kakinya. Sehingga tak pernah lama Bola itu ia kuasai. Udin tertawa melihat tingkah temannya itu. Yang meskipun begitu, Yoga tetap ngotot dan bersemangat dalam bermain. Hal yang baru bagi Yoga semua hal ini, mungkin.
Sedangkan Natasha, diajak oleh Siti bermain karet. Dan seperti halnya Yoga. Natasha pun terlihat kebingungan dan juga kesulitan dalam mengikuti permainan itu. Hingga Natasha lebih sering harus berjaga memegang karet yang dibentangkan dibanding menjadi pemain. Namun, wajahnya terlihat begitu ceria.
…
“Kapan-kapan, aku main lagi kesini ya, Din” ucap Natasha dan juga Yoga saat mereka hendak pulang. Sepertinya mereka begitu senang bermain bersama dirumah Udin. Dirumah mereka tak pernah bisa bermain sebagaimana hari ini.
“Iya, kapan-kapan kita main lagi sama-sama,” jawab Udin terlihat senang mendengar ucapan teman-temannya.
Udin tersenyum melepas kepulangan teman-temannya. Dia begitu bahagia hari ini. semua ketakutan dan pikiran-pikiran buruk yang selama ini menghantuinya sejenak sirna. Meskipun mereka berbeda, namun ternyata selalu ada sisi yang bisa dibanggakan oleh setiap orang. Seperti yang terjadi hari ini.
Sepeninggal teman-temannya, Udin berlari masuk kedalam rumah dengan perasaan yang meluap-luap. Dicarinya Emak. Dan saat didapati Emak yang tengah mencuci gelas dan piring bekas makan-minum Udin dan teman-temannya . Dipeluknya tubuh Emak dari belakang.
“Makasih ya, Mak” ucap Udin kepada Emaknya. Emak tersenyum bahagia melihat anaknya seperti itu.
“Iya, Din. Sama-sama. Kamu senang, khan?” jawab Emak. Udin tidak menjawab pertanyaan Emak. Dia hanya memeluk tubuh Emak lebih erat. Tapi meskipun begitu, Emak bisa mengerti jawaban yang diberikan anaknya.
Kini Udin tidak lagi merasa malu kepada teman-temannya. Meskipun dalam dirinya tetaplah ada keinginan untuk bisa seperti teman-temannya. Namun, semua itu tidaklah lagi membuat dirinya lupa akan siapa dirinya, yang juga memiliki banyak kelebihan atas kekurangan yang ada. Udin bangga dengan Keluarganya, rumahnya dan kehidupannya sekarang. Akan selalu bangga mulai hari ini, selamanya!
sumber : kompasiana.com






Quote "Sebelum memiliki hidup yang cerah maka cerahkanlah diri Anda"

| Mei, 2012 | ||||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | ||
| 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 |
| 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 |
| 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 |
| 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | ||






Pengunjung hari ini : 58
Total pengunjung : 23710
Hits hari ini : 174
Total Hits : 104219
Pengunjung Online: 5